Geografi dan Iklim

Jepang adalah negara kepulauan, mirip dengan Indonesia. Bedanya, kalau Indonesia membentang dari barat ke timur, Jepang dari utara ke selatan. Paling utara adalah Pulau Hokkaido, diikuti oleh pulau Honshu yang merupakan pulau terbesar, membentang dari utara ke selatan, sedikit membelok ke barat di bagian tengahnya. Di ujung pulau Honshu terdapat pulau Shikoku dan Kyushu. Untaian kepulauan Jepang bertambah panjang ke selatan oleh adanya kepulauan Okinawa.

Seluruh wilayah Jepang dipenuhi oleh pegunungan. Banyak daerah pegunungan terjal yang tak bisa dijadikan wilayah pemukiman, sehingga wilayah efektif yang bisa dihuni relatif sempit.

Jepang dikenal sebagai negara yang banyak memiliki gunung berapi. Seluruh wilayah Jepang juga rawan gempa. Beberapa kejadian gempa besar sampai menimbulkan kerusakan parah terjadi berulang kali dalam sejarah Jepang. Gempa besar yang terkini mengguncang Kobe pada tahun 1995.

Secara keseluruhan, kecuali Okinawa, Jepang adalah negeri empat musim. Sepanjang tahun musim berganti, dari musim dingin ke musim semi, lalu ke musim panas. Setelah musim panas berlalu akan datang musim gugur, lalu kembali lagi ke musim dingin. Okinawa adalah daerah dengan iklim subtropis.

Suasana setiap musim di setiap daerah bervariasi. Di bagian utara, di Hokkaido dan Tohoku (bagian timur laut pulau Honshu) musim dingin panjang, dan sangat dingin. Suhu di siang hari bisa mencapai lima derajat di bawah nol. Hal yang sama juga terjadi di wilayah pegunungan. Cuaca dingin disertai salju berlangsung sejak pertengahan bulan November hingga awal bulan April. Di bagian selatan/barat seperti Kyushu musim dingin tidak terlalu dingin dan panjang. Suhu masih bisa mencapai sepuluh derajat celcius di siang hari, dan musim dingin hanya berlangsung dari mulan Desember hingga Maret.

Musim semi adalah musim yang paling banyak dinantikan orang. Setelah berbulan-bulan dicekam dingin yang menggigit Musim semi akan tiba disertai kehangatan. Perlahan, seiring bertambahnya hari, kehangatan itu makin terasa. Selain itu, musim semi adalah saat di mana bunga-bunga dan dedaunan mulai bersemi.

Bunga Sakura mekar pada musim semi. Masa mekarnya sangat pendek, hanya kurang lebih dua minggu. Setelah itu bunga-bunga tersebut akan rontok, digantikan oleh daun yang menghijau. Orang Jepang tak pernah lengah dalam menikmati keindahan bunga Sakura. Mereka melakukan hanami, pesta untuk menikmati keindahan Sakura.

Seiring berjalannya waktu, cuaca menjadi semakin hangat, dan perlahan musim semi berubah menuju musim panas. Daun-daun yang tadinya hijau muda berubah menjadi hijau tua. Pada puncaknya pada bulan Agustus, musim panas di Jepang tak berbeda dengan panasnya cuaca di negara kita. Kadang malah jauh lebih panas. Di beberapa kota suhu udara bisa mencapai 40 derajat celsius.

Di penghujung bulan September cuaca panas sudah mulai tak terasa. Cuaca mulai terasa sejuk. Sangat nyaman, karena tidak panas, tapi juga tidak dingin. Sama seperti kehangatan di pertengahan musim semi.

Musim gugur tak kalah indah dengan musim semi. Di pegunungan, dedaunan menjalani proses untuk rontok. Warnanya berubah dari hijau menjadi kuning, merah, dan coklat muda. Gunung-gunung dipenuhi pemandangan dari kombinasi empat warna daun tersebut.

Di pengujung musim gugur dedaunan rontok dengan sempurna. Tak ada yang tersisa di seluruh pohon. Hanya pohon tertentu seperti cemara yang daunnya tak rontok. Bagi kita yang tak pernah menyaksikan pemandangan itu, penghujung musim gugur dan sepanjang musim panas tampak seperti sebuah negeri yang dilanda kekeringan bertahun-tahun.

Musim dingin sungguh tak nyaman. Khususnya buat kita yang berasal dari daerah tropis. Dingin menusuk, terasa hingga ke tulang. Saat keluar rumah hawa dingin menerpa kulit wajah, menimbulkan rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk.

Tapi bukan berarti tak ada yang bisa dinikmati selama musim dingin. Salju yang memutih menyelimuti hampir setiap jengkal permukaan bumi, luar biasa indahnya. Para penggemar ski selalu menantikan datangnya musim dingin. Berendam di air panas alam (onsen) saat musim dingin, sambil memandang hamparan salju, sungguh nikmat.

Negara pulau. Iklim empat musim. Lahan yang sempit, karena banyaknya pegunungan. Gempa dan tsunami yang kerap mengguncang. Lingkungan seperti itulah yang membentuk karakter orang Jepang, menjadi basis perkembangan kebudayaan mereka.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s