Kangeikai

Ini pengalaman saya saat mulai bekerja sebagai seorang Visiting Research Associate di Kumamoto University, segera setelah menyelesaikan studi S3. Di tempat itu, sebagaimana umumnya di Jepang, diadakan pesta penyambutan untuk saya. Pesta itu disebutkangeikai. Acara ini merupakan sebuah acara formal yang diagendakan secara rutin, dan diputuskan dalam rapat di majelis guru besar.

Saya ingat betul, acara itu diselenggarakan di sebuah restoran tradisional. Ada kejadian yang agak lucu. Karena kesalahan informasi, saya dikira vegetarian, sehingga panitia enggan mengajak saya ke restoran tradisional biasa, yang menunya biasanya dipenuhi oleh jenis-jenis masakan ikan. Karena saya dianggap vegetarian, saya dibawa ke restoran dengan tahu sebagai menu utama. Jadi, semua menu berbasis tahu. Sashimi tahu, sop tahu, tahu bakar, dan sebagainya.

Karena acara itu formal dan merupakan agenda jurusan, saya fikir biayanya akan ditanggung oleh jurusan juga. Ternyata tidak. Biaya yang dikeluarkan untuk pesta itu ditanggung oleh masing-masing peserta yang hadir, kecuali saya. Sebagai tamu yang diselamati saya dibebaskan dari kewajiban membayar iuran pesta, dan biaya untuk saya dipikul oleh semua hadirin.

Begitulah. Dalam berbagai kesempatan selalu begitu. Dalam pertemuan rutin ilmuwan Jepang selalu ada acara makan-minum yang disebut konsinkai (pesta keakraban) dan peserta yang hadir diminta membayar. Bahkan dalam beberapa seminar yang saya ikuti, peserta diminta memberi sumbangan sukarela untuk mengganti biaya minuman ringan yang dihidangkan.

Pengalaman saya bergaul di lingkungan budaya Jepang yang demikian itu membuat saya sedikit kaget ketika kembali ke Indonesia tahun lalu. Suatu ketika saya diminta memberi seminar di jurusan tempat saya bekerja, sebuah universitas di Kalimantan. Eh, begitu presentasi dan diskusi selesai, di luar sudah tersedia nasi kotak untuk peserta seminar. Tentu saja yang tidak ikut terlibat dalam seminarpun kecipratan nasi kotak juga.

Begitulah. Ritual makan minum itu nyaris tak pernah absen dalam berbagai kegiatan. Seminar, rapat, lokakarya, pelatihan, apa saja, semua menyediakan makan. Proposal berbagai kegiatan selalu menyediakan alokasi dana untuk makan.

Seorang rekan bercerita bahwa ia banyak mendengar keluhan staf di fakultasnya tentang berbagai ketimpangan di situ. Kemudian ia menyarankan untuk membuat forum rutin antara dosen dengan pimpinan fakultas. Tujuannya melakukan dialog atas berbagai persoalan yang ada. Tapi yang diberi saran mengeluh bahwa hal itu sulit dilakukan karena minimnya dana. Bingunglah kawan saya itu, yang kebetulan juga baru selesai kuliah di Australia. Ternyata dalam fikiran yang diberi saran tadi, pertemuan semacam itu memerlukan konsumsi, dan itu butuh biaya.

Konon penyediaan konsumsi itu penting, karena peserta biasanya enggan hadir kalau tidak ada konsumsi. Jadi sukses atau tidaknya acara, sangat tergantung pada ketersediaan konsumsi.

Begitulah. Kita dengan enteng menghamburkan uang negara untuk mengisi perut kita. Dan bayangkan bahwa hal itu (mungkin) terjadi di seluruh instansi, di seluruh tingkat. Kalau dijumlah secara total saya kira nilai uang yang kita hamburkan untuk mengisi perut kita itu tidak kecil.

Ini baru perkara makan. Belum lagi bila berusan dengan hal lain. Bisa menyangkut transportasi, kendaraan dinas, listrik, air, dan seterusnya. Pendek kata, kita memperlakukan uang negara seperti uang tak bertuan, yang jumlahnya tak terbatas. Kata efisiensi sepertinya tak dikenal dalam kamus pengelolaan uang negara.

Maka, kita sedang berlomba menggali liang kubur untuk kita sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Kerja, Makanan, Pendidikan, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s