Memasuki Uchi

Terhadap sistem (bisnis) Jepang yang dikenal tertutup, sering muncul pertanyaan: Bagaimana cara masuk dan kemudian diterima sebagai bagian dari sistem (uchi) tersebut? Saya mencoba menjawab pertanyaan itu berdasar pengalaman saya pribadi.

Pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tempat saya bekerja saat ini, dalam beberapa kesempatan sambil bercanda menyatakan bahwa saya (penulis) orang Jepang. Dia sepertinya sedang berusaha menghilangkan tembok psikologis di kalangan bawahan dia, yang mungkin belum siap menerima orang asing pada posisi yang sejajar dengan mereka.

Sejak saat saya secara resmi diterima bergabung di perusahaan, meski belum mulai bekerja, dia berkali-kali memuji saya. Khususnya memuji posisi saya saat itu, yaitu sebagai visiting associate professor di sebuah universitas di Jepang. Saya merasa risih dengan berbagai pujian itu, karena saya belum yakin apakah saya akan bisa menjalankan tugas di perusahaan nantinya. Saya khawatir pujian itu membuat harapan terhadap saya terlalu besar, sehingga nantinya jadi beban.

Taishita mon ja nai yo.” protes saya. Artinya kira-kira sama dengan “no big deal”.

Iya, taishita mon da. Very big deal.” katanya meyakinkan saya. “Orang Jepang umumnya, termasuk saya, untuk kuliah saja di universitas itu susah. Nah, kamu bisa sampai jadi associate professor di situ. Itu hebat.”

Saya menduga, penerimaan oleh orang-orang Jepang kepada saya saat ini lebih disebabkan oleh rekam jejak saya yang sudah ada sebelumnya. Ini tentu saja didukung oleh kemampuan berbahasa Jepang saya yang sangat baik (menurut mereka). Proses menuju rekam jejak itu yang lebih berliku.

Interaksi intensif saya dengan orang Jepang sebagai kelompok dimulai saat saya mulai belajar sebagai mahasiswa S2 di Tohoku University. Saya bergabung dengan sebuah grup riset yang dipimpin oleh seorang profesor. Tapi yang secara aktual membimbing saya adalah seorang Associate Professor. Saya memanggilnya Sensei.

Sensei saat itu berumur sekitar 55 tahun. Dia berasal dari Kobe yang merupakan bagian dari wilayah Kansai, tak jauh dari Osaka, kota terbesar kedua di Jepang setelah Tokyo. Ada perbedaan menyolok antara orang Kansai dengan orang Kanto (wilayah yang meliputi Tokyo dan sekitarnya). Kalau diibaratkan dengan orang Jawa, orang Kansai itu mirip dengan orang Jawa Timur, khususnya Surabaya. Mereka bicara ceplas ceplos, apa adanya, dan terkesan kasar. Sebaliknya orang Kanto mirip orang Yogya-Solo, santun, tapi sulit ditebak maksud sebenar dari sikap maupun kata-katanya.

Sensei menyambut saya dengan peringatan. “Kamu jangan bawa budaya tropis kamu ke sini. Contoh itu orang-orang Jepang, Korea, dan Cina kalau kamu dan bangsa kamu mau maju.“ katanya. Di grup kami memang banyak mahasiswa dari Korea dan Cina, di samping tentu saja orang Jepang. Mereka semua giat bekerja.

Saya waktu itu sangat tersinggung. Sebelum berangkat ke Jepang saya sempat beberapa kali bekerja bersama orang asing, mereka umumnya memuji kinerja saya. Tentu saja pandangan dan kata-kata yang melecehkan seperti itu tidak bisa saya terima. Tapi saya memilih untuk diam, karena kata-kata tidak membuktikan apa-apa. Perbuatanlah yang lebih penting.

Masa-masa awal bekerja melakukan riset di bawah bimbingan sensei terasa penuh dengan tekanan. Dia selalu marah-marah kalau saya melakukan kesalahan. Bagi saya kebanyakan marah Sensei itu tidak proporsional. Ia marah lebih didorong oleh stereotyping atas saya.

Lagi-lagi saya diam. Saya hanya bekerja dan bekerja. Lewat setengah tahun sedikit-sedikit Sensei mulai mempercayai saya. Saya selalu membawa data hasil riset tepat waktu. Hasilnya pun bagus, sehingga semester pertama kuliah, saya sudah bisa presentasi pada pertemuan rutin komunitas ilmiah. Meski demikian, secara keseluruhan Sensei masih tidak puas atas kinerja saya.

Salah satu sebab ketidakpuasan itu adalah saya tidak pernah hadir di kampus pada hari Sabtu. Saya libur. Sensei juga libur. Tapi mahasiswa banyak yang datang ke kampus pada hari Sabtu, bahkan Minggu. Kehadiran itu dianggap sebagai salah satu ciri kerja keras.

Bagi saya, hadir di kampus pada hari libur adalah masalah besar. Di Jepang saya ditemani istri, yang baru saya nikahi menjelang keberangkatan saya ke Jepang. Beberapa bulan kemudian istri saya datang menyusul. Dia tidak paham bahasa Jepang, karena memang tidak pernah berfikir akan ke Jepang selama sebelum menikah dengan saya. Dia harus menjalani hidup di lingkungan yang sama sekali asing. Ini tentu sebuah tekanan yang tak ringan buat dia. Hari-hari saya penuh kesibukan. Berangkat pagi, pulang malam. Satu-satunya kesempatan untuk bersama istri, menghibur dia adalah akhir pekan. Saya tidak mau hak istri saya terabaikan.

Di sisi lain, saya tidak mengukur kinerja dari kehadiran saya di kampus, tapi dari hasil kerja. Saya lebih suka bekerja keras Senin sampai Jumat, mengejar target kerja minggu tersebut, kemudian menikmati libur di akhir pekan.

Saya tak ingat persis kapan sikap Sensei mulai berubah. Sepertinya sikap dia berubah secara bertahap. Saat saya mulai memperoleh hasil yang baik, perlahan Sensei mulai percaya bahwa saya bukan pemalas. Sesekali dia mulai memuji saya, termasuk di depan teman-temannya.

Lulus S2 saya melanjutkan ke program S3. Semester pertama paper saya diterima untuk presentasi di sebuah konferensi internasional di Eropa. Saya juga memperoleh grant untuk biaya perjalanan, sekaligus saya memperoleh dana perjalanan dari sebuah yayasan. Saat itu Sensei senang sekali. Mahasiswa Jepang banyak yang pintar dan rajin. Tapi mereka umumnya punya kelemahan mendasar, yaitu rendahnya kemampuan berbahasa Inggris, khususnya secara lisan. Karenanya tak terlalu banyak dari mereka yang sanggup presentasi di konferensi internasional. Ini adalah salah satu momen penting dalam perubahan sikap Sensei.

Tak lama setelah itu Sensei mendapat promosi menjadi profesor. Tapi dia harus pindah ke universitas lain yang lebih kecil. Dia mengajak saya pindah tempat riset, tapi status kemahasiswaan saya tetap di Tohoku University.

Ini adalah satu momen penting juga. Di situ saya membuktikan pada Sensei bahwa saya bisa bekerja, tak hanya soal riset, tapi juga soal manajemen. Saat pindah, seluruh peralatan riset milik Sensei harus dibawa pindah. Saya berperan besar dalam menata barang-barang itu di tempat asal, lalu membongkarnya di tempat tujuan. Beberapa peralatan eksperimen saya set-up sendiri.

Di tempat yang baru ada 5-6 mahasiswa asuhan Sensei yang otomatis menjadi junior saya. Saya juga menunjukkan pada Sensei bahwa saya mampu membimbing mereka secara akademis, serta mengarahkan mereka khususnya dalam pengelolaan laboratorium.

Tak lama setelah itu Sensei menawari saya pekerjaan kalau saya sudah lulus nanti. Padahal waktu itu saya baru saja hendak menyelesaikan tahun pertama program doktor. Bagi saya ini tanda bahwa saya sudah diterima memasuki uchi.

Sikap saya yang memilih diam saat dimarahi adalah salah satu kunci untuk membuka hati Sensei. Dan yang terpenting, saya tidak merajuk. Biar bagaimanapun kasarnya dia marah, saya selalu kembali ke ruang kerjanya kalau ada hal yang perlu saya sampaikan atau diskusikan.

Belakangan saya tahu bahwa hal ini disukai Sensei. Kepada kawan-kawannya dia beberapa kali memuji saya soal ini, sambil mengungkapkan kekesalannya pada mahasiswa Jepang yang gampang merajuk.

Tapi bukan berarti saya tidak pernah “melawan”. Saat menulis disertasi saya menulis judul yang menurut Sensei salah secara gramatikal. Saya tidak setuju pendapat dia. Lalu saya kumpulkan judul-judul paper di jurnal terkemuka yang memakai struktur kalimat yang sama dengan judul disertasi saya, lalu saya tunjukkan kepada Sensei. Dengan itu dia bisa menerima bahwa dia salah, sambil meminta maaf.

Itulah proses panjang saya memasuki uchi, memasuki komunitas orang Jepang. Saat Sensei pensiun tahun lalu, dia menyampaikan kesan selama menjadi professor di sebuah buletin milik kampus. Dia menyediakan satu paragraf untuk bercerita tentang saya. Berikut terjemahannya:

„(Saat mulai bertugas sebagai profesor) saya memperoleh dua ruangan eksperimen, sehingga seluruh peralatan milik saya bisa dibawa. Saat itu ada mahasiswa asal Indonesia yang sedang saya bimbing pada program doktor. Setelah lulus dia berhasil memperoleh grant untuk menjadi Visiting Research Fellow dari Centennial Anniversary Foundation selama dua tahun. Saat kritis, di mana saya baru memulai tugas, kehadiran seseorang yang memiliki talent seperti dia sungguh sangat penting bagi saya. Mahasiswa ini juga memiliki kemampuan manajerial yang bagus. Setelah kembali ke negaranya ia bergabung dengan sebuah perusahaan Jepang di Jakarta. Ia kerap kembali ke Jepang untuk keperluan bisnis. Dari komunikasi e-mail kami bulan Maret lalu, dalam waktu dekat dia akan segera menjadi direktur di perusahaan tersebut.“

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kerja, Pendidikan dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Memasuki Uchi

  1. Satria berkata:

    Baru sadar saya, ternyata teman saya ini orang hebat yang juga punya kemampuan menulis setara Andrea Hirata.

    Kalau punya waktu, bagus jika kamu tulis kisah sukses seperti Andrea Hirata. Saya yakin kamu tidak akan kalah, malah kemungkinan besar akan lebih bagus dari laskar Pelangi. Saya baca, kalau tulisan-tyulisan kamu digabung seperti Laskar Pelangi, bisa seperti mosaik kehidupan mahasiswa Indonesia dan perjuangannya di Jepang.

    Tulisan tentang Masayoshi juga hampir membuat air mataku mengalir. kamu punya bakat besar menulis. saya siap jadi marketer atau komentator, atau editor tulisan kamu nanti.

    Ini serius, saya tunggu.

    Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s