Sake

Sake adalah minuman keras. Orang Jepang menyebut segala jenis minuman keras, tidak hanya minuman keras tradisional mereka, dengan sebutan sake. Pada kata sake juga sering ditambahkan awalan o, sehingga bunyinya menjadi osake. Awalan ini berfungsi sebagai penghormatan untuk memuliakan sesuatu. Tak banyak kosa kata yang tentang makanan yang diberi penghargaan sedemikian ini. Seingat saya hanya sake, sushi, dan sashimi. Ini menunjukkan betapa pentingnya sake dalam budaya Jepang.

Sake yang paling umum dikenal adalah bir. Bangsa Jepang boleh disebut bangsa peminum bir. Mungkin tingkat konsumsi bir di Jepang hanya sedikit lebih rendah dari Jerman. Selain bir, tentu saja yang juga populer adalah sake tradisional Jepang, yang disebut nihonshu, terjemahan lateralnya sake Jepang. Selain itu ada shochu, sejenis sake tradisional juga, namun proses pembuatannya berbeda, dan kadar alkoholnya lebih tinggi dari nihonshu. Orang Jepang juga minum berbagai Jenis sake yang berasal dari luar, seperti anggur, dan wiski.

Sake tak mungkin dihilangkan dari keseharian orang Jepang. Karenanya ini adalah barang consumer good yang paling laris. Di TV Jepang iklan sake, khususnya bir, mengambil waktu terbanyak dari jam tayang. Dan tidak ada keberatan atas iklan sake, dengan visualisasi orang minum secara nyata. Berbeda dengan iklan rokok, yang tak pernah ditayangkan.

Undang-undang Jepang membatasi bahwa yang boleh minum sake adalah yang berusia 20 tahun ke atas. Ini adalah batas usia dewasa. Ketika seseorang memasuki usia ini ia menjalani ritual seijinshiki, yaitu ritual menjadi dewasa. Sejak saat itu dia sudah boleh minum sake. Minum sake pertama orang tua dengan anaknya menjadi semacam pengingat bagi orang tua, bahwa anaknya sudah dewasa.

Semua acara pesta menghadirkan sake. Pesta dibuka dengan bersulang (kanpai), dengan sake. Selanjutnya acara diisi dengan makan sambil minum sake. Bila pesta usai sebagian peserta pindah ke restoran atau kedai minum lain, melanjutkan acara minum sesi ke dua, tiga, bahkan empat (nijikai, sanjikai). Pada sesi selanjutnya suguhan sake lebih dominan, karena orang tak lagi butuh makanan.

Tentu saja mereka minum sampai mabuk. Selama bergaul dengan orang Jepang saya menyaksikan banyak jenis orang mabuk. Ada yang ceria melebihi batas, berbicara meracau, atau yang langsung tertidur. Sensei saya termasuk peminum yang kuat. Setelah minum beberapa gelas bir, ditambah beberapa gelas wiski kesukaannya, dia masih bisa berdiskusi masalah Fisika dengan saya. Yang tak pernah saya saksikan secara langsung adalah orang yang mengamuk ketika mabuk.

Acara minum sake bagi orang Jepang adalah salah satu media komunikasi. Beberapa orang Jepang menjelaskan pada saya bahwa mereka umumnya pemalu, sulit berbicara secara blak-blakan. Kalau sudah minum sake mereka biasanya bisa lebih banyak bicara. Saya lihat hal itu ada benarnya.

Orang Jepang membangun hubungan pertemanan di tempat minum. Istilah untuk ini adalah shuseki. Hubungan pertemanan dibuka dengan ajakan minum bersama. Keakraban antar anggota kelompok biasanya diukur dengan berapa sering mereka pergi minum bersama. Saat hubungan saya dengan Sensei sudah semakin akrab, dia sering mengungkapkan kekesalannya karena saya tidak minum dengan alasan agama. Bagi Sensei sangat aneh, orang yang sudah akrab dengan dia tapi tidak pernah minum bersama dia.

Di shuseki ada istilah murei. Artinya tidak perlu ada etika. Ketika sudah mulai mabuk orang cenderung tidak bisa mengontrol kata-kata maupun tindakan. Karenanya segala tindakan dan kata-kata di meja minum dimaafkan.

Tentu saja tidak berarti lantas tidak ada tata krama di meja minum. Ada tata krama baku, semacam table manner. Hal kecil yang saya amati, misalnya, seseorang tidak menuangkan sendiri minuman ke gelasnya. Orang terdekat dengan dia harus menuangkan, sebagai bentuk penghormatan. Dan ada banyak lagi tata krama sejenis itu.

Dengan budaya minum seperti itu, apakah tidak merusak? Meski efek minuman keras pada tubuh diketahui tidak baik, saya tidak punya data tentang pengaruhnya pada kesehatan orang Jepang secara spesifik. Yang jelas, Jepang adalah negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia.

Bagaimana dengan ketertiban? Meski kedai minum ada seluruh pelosok kota, sangat jarang ada gangguan keamanan oleh orang mabuk. Yang agak sering menjadi berita adalah orang yang menyetir dalam keadaan mabuk. Beberapa di antaranya dengan akibat fatal, yaitu jatuh korban mati. Terhadap masalah ini pemerintah menerapkan peraturan yang keras. Sudah beberapa kali peraturan itu direvisi untuk memperkeras sangsi atas pelanggarannya. Pada level pelanggaran tertentu seperti adanya korban luka atau bahkan meninggal, pelaku dikirim ke penjara lebih dari 5 tahun. Tidak hanya itu, dapat dipastikan secara sosial masa depannya sudah habis, karena ia diberhentikan dari tempat kerja dan mungkin tidak akan ada perusahaan yang mau memperkerjakan dia lagi nantinya.

Yang unik adalah peran sake di dunia kerja. Logika kita yang tidak biasa minum, orang akan jadi malas atau menelantarkan pekerjaan bila sudah terbiasa minum. Tapi di Jepang yang terjadi sebaliknya. Sake adalah media untuk melepas beban kerja. Segala stress akibat beban kerja dilepas di kedai minum. Pulang ke rumah istirahat, dan esoknya siap bekerja kembali. Para istri tidak keberatan suaminya mampir minum di kedai. Dengan begitu segala macam kesumpekan di tempat kerja tidak perlu dibawa ke rumah. Itulah yang dipercaya oleh orang Jepang.

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kerja, Makanan, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s