Showa no oyaji

Orang Jepang memulai perhitungan tahun dengan bertahtanya Kaisar (Tenno). Dalam dokumen resmi, mereka tidak menggunakan perhitungan tahun Masehi (Seireki-西暦), meski perhitungan bulannya tetap mengikuti. Tahun 2009 ditulis sebagai tahun Heisei 21.

Kaisar Hirohito berkuasa dari tahun 1926 sampai tahun 1989. Periode itu disebut periode Showa (昭和) dan Kaisar Hirohito disebut sebagai Showa Tenno (昭和天皇). Saat dia meninggal tahun 1989, itu adalah tahun ke 64 Tahun Showa, dan tahun yang sama menjadi tahun pertama atau Gannen (元年) bagi kaisar berikutnya, Akihito. Periode pemerintahan Kaisar Akihito disebut periode Heisei (平成) dan saat ini memasuki tahun ke 21.

Periode Showa adalah periode yang sulit bagi orang Jepang. Dalam periode ini Jepang mulai melakukan ekspansi ke Asia Timur dan Tenggara, kemudian diikuti dengan Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan. Pasca perang, orang-orang Jepang harus berjuang dalam kemiskinan, untuk bangkit. Saya ingin menuliskan perjalanan para ayah atau oyaji (親父)pada periode ini untuk menggambarkan situasi pada zaman tersebut.

Sensei saya lahir tahun 1942. Tepat saat perang mulai berkecamuk. Ayahnya adalah seorang tentara, sebagaimana banyak orang lain pada zaman itu. Saat Sensei baru berusia beberapa tahun, ayahnya ditugaskan berangkat perang. Ayahnya gugur di Papua.

Sensei saya adalah satu dari ribuan anak zaman itu. Artinya ada ribuan ayah bernasib sama dengan ayah Sensei. Adapun ayah-ayah yang lain, yang tidak dikirim ke medan perang, tidak kalah menderitanya dengan yang berperang. Itulah salah satu potret ayah zaman Showa.

Perang usai. Tapi Jepang sudah terlanjur luluh lantak. Di sana sini mulai diusahakan perbaikan. Tapi perubahan berjalan lambat. Selama beberapa periode, tak banyak yang bisa dikerjakan. Pada masa-masa seperti ini para ayah pulang ke rumah sore hari, dan secara keras mendidik disiplin pada anak-anaknya.

Ayah adalah figur sentral. Ayah akan duduk di ruang tengah (ima), anak-anak berkumpul bersama. Baru makan malam bisa dimulai.

Orang Jepang mandi malam dengan berendam di air panas (ofuro). Ayah mendapat giliran pertama masuk ofuro. Baru kemudian anggota keluarga yang lain. Tak jarang ibu mendapat jatah terakhir.

Masa-masa akhir decade 50-an, ekonomi mulai membaik. Dekade 60-an adalah saat ekonomi sedang menuju puncak. Salah satu tandanya adalah penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo tahun 1964.

Pada masa ini, para ayah adalah para pekerja keras. Keluar rumah saat anak-anaknya masih tidur, dan kembali saat anak-anaknya sudah tidur. Beberapa teman saya bercerita bahwa dia sama sekali tidak mengenal sosok ayahnya ketika masih kecil.

Sensei saya yang punya anak seumur dengan saya juga bercerita, bahwa dia tidak pernah bercengkrama dengan anak-anaknya saat mereka masih kecil. Dia selalu sibuk bekerja.

Baru-baru ini saya berbincang dengan salah seorang kenalan saya, seorang Presdir perusahaan Jepang di Indonesia. Dia juga bercerita hal yang sama. Belasan tahun dari karirnya dihabiskan dengan bekerja di kota yang berbeda dengan tempat keluarganya tinggal. Ia tinggal sendiri terpisah dari keluarganya. Termasuk beberapa tahun di luar negeri. Dalam bahasa Jepang ini disebut tanshin funin (単身赴任). Dia nyaris tak mengenal anaknya, karena tidak bersama dia selama masa pertumbuhan.

Bagi orang Jepang, tanshin funin itu hal yang tidak enak, tapi harus diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Ada mungkin yang keberatan, tapi jarang yang mengelak. Orang Jepang memperlakukan tugas dari perusahaan seperti tentara menerima perintah. Mereka hanya menjalankan. Tidak membantah. Juga tidak mengelak, misalnya dengan pindah ke perusahaan lain untuk mencari suasana yang lebih baik.

Para ayah di dekade 80-an adalah mereka yang menikmati puncak kemajuan ekonomi Jepang, khususnya pada masa bubble. Mereka ini tetap pekerja keras. Tapi sudah lebih „manusiawi“. Artinya sudah bisa menyisihkan waktu untuk berkumpul besama keluarga.

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kerja, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s