Sonkeigo

Yao sensei wa tadaima irassyaimasen.“

Kalimat itu sangat sering diucapkan oleh mahasiwa Jepang saat menerima telepon di kantor grup riset kami saat saya belajar di Jepang dulu. Penelepon minta bicara dengan Sensei (profesor) bernama Yao, yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Mahasiswa tadi menjelaskan situasi itu dengan kalimat di atas.

Saya sering tersenyum kecil mendengar kalimat seperti itu, karena saya tahu kalimat itu salah. Lho? Orang Jepang salah dalam berhasa Jepang?

Mahasiswa tadi berbicara dengan bahasa halus, untuk penghormatan, yang disebut sonkeigo. Tidak ada yang salah dalam tata bahasa yang dia gunakan. Struktur kalimatnya benar. Hanya saja dia salah dalam penerapannya.

Sonkeigo memang rumit. Ini adalah salah satu bagian yang paling memusingkan bagi saya saat mempelajari bahasa Jepang, di samping-tentu saja- saat menghafal huruf-huruf kanji. Bagi orang Jepang sekalipun, sonkeigo ini rumit.

Bahasa Jepang memiliki tiga tingkatan. Ada bahasa untuk penghormatan (sonkeigo), bahasa standar (futsugo), dan ada bahasa untuk merendah (kenjogo). Kosa kata yang digunaka membedakan tingkatan itu. Misalnya, untuk kata ada/hadir digunakan irassyaru (sonkei), iru (futsu), dan oru (kenjo).

Selain soal kosa kata, ada hal yang lebih penting dalam sonkeigo, yaitu soal pengenaan. Sonkeigo dipakai untuk orang yang lebih tinggi (me ue) dari penutur. Misalnya orang yang lebih tua, atau lebih tinggi jabatannya. Tapi ada lagi aturan lain. Saat mendeskripsikan atau menerangkan seseorang dalam kelompok/keluarga kita (anggota uchi gawa) kepada orang luar, kita tidak boleh menggunakan kosa kata sonkeigo.

Guru bahasa Jepang saya memberi deskripsi yang sederhana untuk aturan di atas. „Seluruh anggota uchi diperlakukan sama di hadapan orang luar. Bapak sama dengan kucing.“ Kita, misalnya, tidak akan mengatakan: „Kucing saya wafat“. Wafat adalah bentuk kata halus/penghormatan yang tidak cocok digunakan untuk kucing.

Kesalahan itulah yang dilakukan oleh mahasiswa tadi. Dia sedang menjelaskan situasi tentang profesor di grupnya kepada orang luar. Tapi dia menggunakan dua kata penghormatan yang tidak pada tempatnya, yaitu sensei dan irassyaimasen. Seharusnya dia mengatakan: „Yao wa tadaima orimasen.“. Perhatikan bahwa dalam kalimat tersebut nama orang (Yao) sama sekali tidak diberi embel-embel penghormatan, san atau sensei.

Sebagai orang Indonesia kita bisa „memahami“ kesalahan mahasiswa Jepang tadi. Tentu tak elok bagi kita untuk menyebut nama saja kepada bapak/guru/atasan kita. Demikian pula, kita tak akan nyaman menggunakan kata-kata kasar untuk mendeskripsikan dirinya.

Tapi logika bahasa Jepang ternyata tidak demikian. Meninggikan orang serumah adalah hal yang tabu. Sama seperti tak wajarnya saat kita berkata „Kucing saya wafat.“

Sonkeigo dipertahankan dalam percakapan bisnis. Ini adalah bagian penting dari tata krama bisnis Jepang. Karenanya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, dalam masa training di perusahaan, biasanya diberi pelajaran mengenai sonkeigo.

Pos ini dipublikasikan di Bahasa, Kerja, Pendidikan, Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sonkeigo

  1. mia.midori berkata:

    konnichiwa….

    waahh… postingannya tentang sonkeigo dan kenjogo.. jadi ada sedikit tambahan info tentang penelitian kami ^^

    memang seh sonkeigo dan kenjogo amat sangat susah bwt kami yang lagi belajar bahasa jepang,,,, dan kata sensei-ku orang jepang itu sendiri kadang keliru menggunakan sonkeigo dan kenjogo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s