Laode

Badannya kurus, tidak terlalu tinggi. Kekurusan itu membuat tulang-tulang pipinya menonjol, matanya terlihat cekung. Kulitnya hitam legam, khas kulit orang yang sehari-harinya terjemur di bawah terik matahari. Melihat dia membuat aku teringat pada pekerja jermal di kampungku.

Namanya Laode, cuma itu yang ku ingat. Mestinya ada nama lain di belakang nama itu, tapi aku tak kuasa mengingatnya. Ia berumur 24 tahun, menurut pengakuannya. Aku bertemu dengannya di kantor imigrasi di sebuah kota di Jepang. Melalui pengelola asrama mahasiswa asing tempat aku tinggal petugas imigrasi memintaku untuk menjadi penerjemah bagi seorang warga negara Indonesia yang sedang menjalani pemeriksaan imigrasi untuk proses deportasi.

Melalui tanya jawab dengan petugas imigrasi yang aku terjemahkan, aku memahami kisah Laode. Dia lahir di sebuah pulau kecil di Sulawesi. Keluarga ayahnya adalah keluarga nelayan. Pekerjaan itulah yang ia tekuni sejak ia mulai beranjak remaja.

Dua tahun sebelum pertemuan denganku ini, Laode mulai bekerja menjadi awak kapal penangkap ikan berbendera Jepang. Ia memilih pekerjaan ini untuk memperbaiki nasib. Bekerja sebagai nelayan tradisional bukanlah pilihan yang bisa membebaskan ia dan keluarganya dari kemiskinan.

Lalu, kenapa ia hendak dideportasi? Menurut cerita Laode, di kapalnya terjadi perkelahian antara awak kapal orang Indonesia dengan orang Jepang. Orang Indonesia itu menusuk si Jepang tadi dengan pisau dapur sampai luka cukup parah. Bukan Laode pelakunya, orang lain. Ia sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi.

Laode adalah saksi kejadian ini. Ia dibawa paksa masuk ke Jepang untuk keperluan pemeriksaan polisi. Setelah proses pemeriksaan selesai ia diserahkan ke imigrasi untuk dideportasi dengan tuduhan: masuk ke Jepang secara illegal. Gila bukan?

Dalam pemeriksaan Laode bercerita bahwa orang-orang Jepang itu kasar dan sombong. Mereka dengan gampang memaki orang dengan kata-kata kotor. Awak kapal dari Indonesia sering difitnah macam-macam. Antara lain dituduh mencuri makanan. Itulah pangkal perkelahian tadi.

Selesai pemeriksaan aku berkesempatan bicara empat mata dengan Laode. Dia tampak takut. Bahkan terhadap aku pun dia terlihat takut. Atau mungkin dia minder. Dia lebih banyak menunduk saat aku ajak bicara.

„Saya takut, Pak.“ katanya.

“Tak perlu takut. Kamu kan tidak salah apa-apa. Sebentar lagi semua akan berakhir.”

„Saya tidak pernah masuk tahanan, Pak. Sekali masuk, di negeri orang pula.”

„Kamu bukan tahanan. Ini kan hanya untuk proses pemeriksaan.“

Ia diam, mencoba mengerti kata-kata hiburan itu. Tapi aku bisa membayangkan, ia sebenarnya disatukan dengan para pelanggat aturan imigrasi.

“Uang gaji saya gimana, Pak?”

“Gaji kamu belum dibayar?”

„Iya. Beberapa bulan. Dan saya akan diberhentikan, padahal kontrak saya belum selesai.“

Aku tercenung. Laode bukan pelaku kriminal. Ia hanya sial, kebetulan berada di tempat kejadian perkara dan menyaksikan kejadiannya. Mengapa ia harus menanggung kerugian seperti itu?

Aku tanyakan soal uang ini pada petugas imigrasi. Petugas itu menjelaskan bahwa hal itu adalah urusan perusahaan tempat dia bekerja. Mungkin nanti akan diurus setelah proses deportasi selesai, dan uangnya akan diserahkan menjelang keberangkatannya ke tanah air. “Mungkin. Tapi tidak ada jaminan.” keluhku dalam hati.

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantu Laode. Aku hanya seorang penerjemah. Bahkan untuk berbicara lebih lama pun aku tak punya kuasa. Sebelum pulang aku hanya berpesan pada petugas imigrasi, „Buta niku wo tabesasenaide kudasai.“ Jangan beri Laode makan daging babi.

Pos ini dipublikasikan di Cerita-Fiksi, Kerja, Persona, Sosial dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s