Masayoshi

Aku tak pernah berhenti menyesali keputusanku untuk berkunjung ke rumahnya di tahun baru itu. Ia kakek tua berusia 80 tahun lebih. Namanya Masayoshi Uehara. Istrinya yang nyaris setua dia, bernama Masako. Mereka tinggal di sebuah rumah, persis di berhadapan dengan bangunan apartemen di mana kami menyewa sebuah kamar untuk tempat tinggal.

Apartemen ini adalah tempat pertama di tengah pemukiman orang Jepang yang kami tinggali. Sebelumnya, selama enam tahun lebih kami selalu tinggal dormitori untuk mahasiswa asing yang disediakan oleh universitas. Waktu aku selesai kuliah di program doktor, aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai peneliti tamu. Dengan status baru itu aku tak lagi berhak tinggal di dormitori.

Aku berkenalan dengan pasangan kakek-nenek ini dua hari setelah kami pindah ke apartemen itu, di suatu musim gugur. Sebenarnya tak cukup tepat untuk disebut berkenalan. Waktu itu kami hanya saling bercakap sejenak. Mereka tak tahu namaku, karena aku tidak memperkenalkan diri. Mereka juga tak memperkenalkan nama mereka. Aku tahu nama mereka dari papan nama kecil bertulis huruf kanji di kotak pos di gerbang pagar rumah mereka.

Pagi itu aku dan istriku sedang menata barang-barang yang kami bawa dari dormitori ke apartemen itu. Ada cukup banyak kardus berisi barang. Di antaranya ada kardus yang cukup berat. Waktu mencoba mengangkat salah satu kardus berat itu, istriku mengalami sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Mungkin dia keseleo. Dia merasa sakit, dan tidak bisa bergerak. Aku papah dia ke kamar tidur, lalu aku rebahkan di atas futon yang aku hamparkan seadanya. Aku melanjutkan pekerjaan menata barang-barang sambil menjaga anakku yang baru berusia sembilan bulan, sambil pula sesekali memantau kondisi istriku. Aku fikir dia cuma keseleo, dan berharap segera pulih.

Tapi hingga malam hari tak ada tanda-tanda istriku membaik. Dia tak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak dia menjerit kesakitan. Khawatir keadaannya makin memburuk, aku putuskan untuk menelepon pemadam kebakaran, untuk minta bantuan ambulan. Saat itu sudah sekitar pukul sepuluh.
Tak lama setelah kutelepon, ambulan datang. Dengan tandu istriku diangkut keluar apartemen, lalu dimasukkan ke ambulan. Aku ikut masuk, sambil menggendong anakku yang sedang tidur. Dengan ambulan kami menuju rumah sakit terdekat.

Saat masuk ambulan aku lihat pasangan kakek-nenek itu keluar rumah. Ambulan itu memang tak membunyikan sirene saat masuk ke depan apartemen kami. Tapi apartemen itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil. Rumah kakek-nenek itu tak lebih dari dua meter dari pinggir jalan. Kilatan lampu sirene ambulan membuat mereka keluar rumah, dengan wajah ingin tahu. Tak sempat aku menyapa mereka karena aku buru-buru masuk ambulan.

Malam itu setelah isteriku diperiksa dokter aku diberitahu bahwa dia harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Naik taksi aku pulang ke apartemen sambil memeluk anakku.

Esok hari, saat aku keluar apartemen untuk pergi ke rumah sakit, aku lihat Masako san di depan rumahnya. Dia menyapaku dengan wajah khawatir.

“Kino douka sarenano desuka.” tanyanya dalam sonkeigo, bahasa Jepang halus. Dia menanyakan ada apa semalam. Aku jelaskan bahwa istriku mengalami masalah dengan otot pinggangnya. Gikkorigoshi, itu istilah bahasa Jepang yang diberitahukan dokter kepadaku tadi malam. Saat istilah itu aku sebutkan, dia langsung paham.

“Sore wa taihen desune.” katanya prihatin. „Kalau butuh bantuan, jangan segan-segan memberi tahu kami.“

Aku mengangguk dan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian istriku sembuh, lalu keluar dari rumah sakit. Kejadian sakitnya istriku itu membuka hubungan kami dengan pasangan kakek-nenek itu.

+++
Apartemen yang kami sewa kecil dan sederhana. Berlantai tiga dan tak terlalu luas. Khas apartemen di kota-kota kecil di Jepang. Bangunan ini sebenarnya lebih cocok disebut rumah kos. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kampus. Kamar-kamarnya kecil, cocok untuk hunian mahasiswa. Kamar yang kami sewa terletak di lantai satu, tadinya adalah dua kamar, digabung menjadi satu untuk memperoleh kamar yang lebih besar. Hanya kami penghuni yang berkeluarga di apartemen itu.

Rumah kakek-nenek tadi persis di depan apartemen kami. Pintu pagarnya persis berhadapan dengan pintu keluar apartemen. Hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter. Di sekitar situ banyak rumah-rumah penduduk, juga beberapa apartemen. Kami tak pernah bertegur sapa dengan penduduk di sekitar apartemen. Paling-paling hanya saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil saat berpapasan.

Tapi dengan kakek-nenek ini agak lain. Setidaknya aku bertukar salam “ohayougozaimasu” atau “konnichiwa” kalau bertemu mereka. Sesekali aku berbincang ringan dengan mereka. Istriku tak pernah berbincang, karena kemampuan bahasa Jepangnya agak terbatas. Ia akan kesulitan kalau berbicara dengan kakek-nenek yang menggunakan bahasa Jepang dengan dialek lokal dan gaya orang tua.

Makin lama berinteraksi kami makin akrab. Kadang kakek-nenek itu memberi kami makanan atau buah-buahan. Sesekali sengaja mereka membeli mainan kecil di pasar untuk anak kami. Kami membalasnya dengan memberi makanan juga, khususnya kalau kami membuat makanan Indonesia yang menurut kami cocok untuk lidah orang Jepang.

Di musim semi mereka mengantarkan sakuranbo (cherry). Musim panas anakku dihadiahi satu set hanabi (kembang api). Musim gugur giliran buah kaki (kesemak) dari pohon di halaman rumah mereka di antarkan kepada kami.

Musim dingin ini adalah musim dingin ke dua kami tinggal di apartemen ini, dan bertetanggan dengan kakek-nenek itu. Tahun baru sudah menjelang. Ini adalah hari istimewa bagi orang Jepang. Suasananya persis seperti lebaran di negeri kita. Karena hubungan baik kami sudah berlangsung setahun lebih, aku putuskan untuk mengunjungi kakek-nenek itu ke rumah mereka saat tahun baru. Istriku setuju dengan gagasanku.

Begitulah. Di suatu petang, tanggal 1 Januari, kami bertiga berkunjung ke rumah itu untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Kakek-nenek itu menyambut dengan gembira. Ketika itulah baru kami berbincang lebih akrab.

Kakek-nenek ini punya anak laki-laki. Anak tunggal. Dia bekerja di Tokyo, dan sudah berkeluarga. Anaknya dua, sudah usia sekolah dasar. Biasanya anaknya pulang saat tahun baru. Tapi tahun ini tidak pulang.

Obrolan kami akhirnya tiba pada suatu topik yang memicu petaka. Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan terjadi. Kakek itu bercerita bahwa dia pensiunan tentara. Dia jadi tentara saat Perang Dunia II. Dia bertugas di Indonesia saat itu. Di Tarakan tepatnya. Dua tahun dia bertugas di Tarakan. Dia kembali ke Jepang saat Jepang kalah perang dan mundur dari kawasan Asia yang dikuasainya. Hanya itu yang dia ceritakan. Tak detil.

Pulang dari rumah itu istriku banyak diam. Wajahnya agak cemberut. Ini memberi firasat tak sedap. Biasanya ini adalah tanda bahwa ada yang kuran berkenan di hatinya. Ujungnya adalah pertengkaran kami. Sebuah situasi yang paling aku benci.

„Ada apa?“ tanyaku lembut, mencoba untuk tak mengobarkan amarahnya.

Dia hanya diam. Dan ini paling rumit buatku. Aku tak pandai merayu istriku bila ia merajuk. Sejak dulu tak pandai, sekarangpun tak pandai.

“Ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?“

Dia masih diam. Aku juga akhirnya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Putus asa aku alihkan perhatianku pada anakku, dan beberapa pekerjaan kecil di rumah.

„Aku benci kakek itu.“ kata istriku beberawa saat kemudian. Ucapan itu mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari ada yang membuat istriku kesal pada kakek itu.

„Kenapa?“ tanyaku hati-hati.

„Masa Abang nggak ngerti?“ tanyanya balik. Duh, ini pertanyaan yang selalu menusuk. Selalu membuatku merasa gagal jadi laki-laki. Gagal memahami perasaan perempuan, istriku.

“Kakek tua bangka itu adalah bekas serdadu Jepang. Tahu kan apa yang mereka lakukan selama menjajah Indonesia? Coba Tanya, berapa perempuan yang dia perkosa selama bertugas di Indonesia?” omel istriku berang.

Aku terhenyak. Lagi-lagi kehabisan kata-kata. Tak pernah aku menyangka bahwa masa lalu kakek itu akan membuat istriku berang. Aku coba membantah. Kakek itu belum tentu sejahat itu. Lagipula ia tak menyakiti kami.

„Ya itulah. Abang memang tak pernah paham perasaan perempuan.“ Itu kata-kata pemungkas dari istriku, nyaris di setiap pertengkaran kami.

+++

Sejak itu aku menghindari interaksi dengan kakek itu. Juga dengan istrinya. Sungguh, aku merasa mereka sama sekali tak bersalah pada kami. Tapi aku harus menjaga perasaan istriku. Dia gampang tersinggung.

Aku coba memahami perasaan istriku. Tak ada keluarga kami yang terkena perbuatan jahat tentara Jepang di jaman penjajahan dulu. Tak ada perempuan dari keluarga kami yang diperkosa tentara Jepang. Tapi istriku memang sensitif terhadap kejahatan serdadu. Khususnya kejahatan terhadap perempuan. Juga terhadap anak-anak. Setiap kejahatan itu bagi dia seperti serangan terhadap diri pribadinya. Aku coba berempati padanya.

Sejak tahun baru itu aku selalu menghindar dari kakek itu. Juga dari istrinya. Kalau kulihat salah satu dari mereka ada di depan rumah saat aku hendak keluar apartemen, aku tunda sampai mereka masuk. Demikian pula saat aku hendak pulang. Aku berputar balik, menunda ketibaan di apartemen kalau aku lihat mereka di depan rumah.

Begitulah. Selama sisa masa tinggal kami di apartemen itu, interaksi dengan kakek-nenek itu jauh berkurang. Sangat jauh. Aku rasa mereka juga sadar akan hal itu.

Lalu tibalah saatnya kami mudik ke tanah air. Saat itu sudah penghujung musim gugur. Artinya hampir setahun aku menghindar dari kakek-nenek itu. Pekerjaanku sebagai peneliti tamu selesai, aku harus pulang bersama keluargaku. Satu hal yang mengganggu adalah bahwa aku merasa harus berpamitan dengan kakek-nenek itu. Tapi aku juga tak mau melukai perasaan istriku.

Diam-diam, suatu hari, beberapa hari menjelang keberangkatanku ke tanah air, aku menyelinap sendirian ke rumah kakek-nenek itu. Aku berpamitan, terburu-buru. Setelah aku mengabarkan bahwa kami sekeluarga hendak pulang ke tanah air dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan selama ini, aku lagi-lagi dihadapkan pada kejadian yang tak pernah aku duga.

Kakek itu, Masayoshi Uehara, bersujud di depanku. Sujud khas orang Jepang. Menunduk dalam, wajahnya menyentuh tatami tempat aku duduk.

„Wareware, mukashi hidoi koto wo shite shimatte, makotoni mousiwake arimasen.” Ia meminta maaf atas perbuatan buruk di masa lalu. Aku sangat terkejut. Lalu bayangan yang selama ini menghuni benak istriku terasa mulai menghantui benakku pula. Aku membayangkan kakek tua ini sebagai serdadu muda yang bengis, liar. Seorang pemerkosa dan penjagal.

Tapi bayangan itu hanya sekejap. Kakek tua itu, masih dalam keadaan bersujud, melanjutkan. Seakan dia membaca isi fikiranku.

„Jangan salah sangka. Tak pernah sekalipun aku berbuat buruk pada bangsamu. Aku tak membunuh mereka. Tak menyakiti mereka. Aku juga tak memperkosa. Tapi teman-temanku melakukan itu semua. Aku tak sanggup mencegah mereka, menghentikan mereka. Untuk itulah aku minta maaf padamu. Pada bangsamu.“

Ketika ia bangun dari sujudnya, wajahnya berurai air mata.

Pos ini dipublikasikan di Cerita-Fiksi, Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Masayoshi

  1. johan Romadhon berkata:

    Kang Hasan, ini komentar dari isteri saya: Mungkin kita harus berhati-hati menghakimi orang. Sekalipun ia adalah sang pelaku kejahatan. Bukankah Tuhan mengampuni orang yang bertaubat sungguh-sungguh betapapun besar kesalahan yang pernah dilakukan? Apalagi ternyata ia hanya juga seorang korban perang. Mungkin saat itu menjadi tentara bukan pilihannya, tapi karena terkena wajib militer. Dan nyatanya ia tak ikut mengubangi dirinya dengan kekejaman. Tak semua penjajah berhati serigala. Ada juga yang berhati nurani, menolak sebuah keangkaramurkaan. Mungkin kita masih ingat ‘politik balas budi’nya Dowes Dekker saat pendudukan Belanda.
    Konon Kakekku juga salah seorang korban wajib militer saat itu. Ia membenci perang dan tak pernah bercita-cita menjadi seorang tentara. Ia dipekerjakan di perkeretaapian. Cerita yang ku dengar tentangnya jauh dari gambaran serdadu jepang yang bengis. Ia santun, lembut dan sangat menyayangi nenekku yang diperistrinya. Ibuku tak sempat bertemu dengannya karena beliau telah dipanggil Yang Maha Kuasa saat ibuku masih dalam kandungan nenekku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s