Muhammad Noboru Sato

Namanya Noboru Sato. Nama keluarga Sato adalah nama keluarga yang populasinya paling tinggi di Jepang. Ia seorang muslim. Waktu masuk Islam di depan namanya ditambahi nama Muhammad. Kami memanggilnya Brother Sato atau Sato san.

Saat saya pertama kali mengenalnya tahun 1997 Sato san berumur kira-kira 50-an tahun, mungkin sudah mendekati 60. Saya agak banyak berinteraksi dengan beliau saat saya jadi General Secretary di Islamic Center. Sato san adalah President di lembaga tersebut. Dia adalah President seumur hidup. Tiap tahun pengurus berganti, tapi Sato san selalu dipilih menjadi President.

Setidaknya ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, Sato san adalah yang paling senior di antara kami. Menjadikan dia sebagai pemimpin adalah cara kami untuk menghormati dia. Alasan lain bersifat pragmatis. Beliau adalah orang Jepang, penduduk asli di kota itu. Dia tahu lebih banyak tentang berbagai hal mengenai daerah itu. Yang jelas, dia tidak akan pergi dari kota itu sebagaimana kami para pendatang.

Kami menyewa dua kamar apartemen sederhana untuk dijadikan Islamic Center. Di situlah salat Jumat dan berbagai acara dakwah diadakan. Termasuk toko daging dan makanan halal. Ruangan yang kami sewa tidak besar. Karenanya kalau ada acara yang menghadirkan banyak orang seperti salat Ied, kami meminjam ruangan besar milik universitas di dormitori untuk mahasiswa asing.

satocloseup

Kamar apartemen tadi kami sewa dengan kontrak atas nama Sato san. Organisasi Islamic Center juga didaftarkan ke pemerintah kota atas nama Sato san. Lebih mudah begitu, karena dia orang Jepang, sehingga lebih mudah berkomunikasi dalam berbagai keperluan. Sato san tidak pernah merasa diperalat untuk hal ini. Dia menerima itu dengan penuh tanggung jawab.

Sato san jarang hadir salat Jumat. Dia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Kantornya jauh dari Islamic Center. Kami para mahasiswa asing pergi salat jumat dengan memanfaatkan waktu istirahat makan siang. Kebetulan Islamic Center dekat dengan kampus, sehingga kami tidak perlu meninggalkan pekerjaan di kampus terlalu lama. Tapi yang terpenting, jadwal kerja di kampus sangat fleksibel, sehingga kami bisa mengatur waktu sendiri dan tidak terhalang untuk salat Jumat.

Berkah itu sayangnya tidak bisa dinikmati oleh Sato san. Ia bekerja di perusahaan. Tentunya perusahaan Jepang. Ia terikat pada jam kerja yang ketat. Dan tak mungkin mendapat dispensasi dengan alasan hendak melaksanakan salat Jumat. Karenanya dia jarang hadir. Dia hadir salat Jumat bila hari Jumat jatuh pada hari libur. Kami semua memaklumi itu.

Tapi Sato san sering hadir pada kegiatan lain yang biasanya kami selenggarakan pada akhir pekan atau malam hari. Tak hanya hadir, Sato san banyak membantu untuk acara itu. Ia biasanya membawa makanan dan minuman. Atau mencarikan barang yang diperlukan untuk acara bila diperlukan. Saat kumpul-kumpul itu Sato san biasanya mengimami salat jamaah. Bacaan Qurannya cukup fasih.

Saya tak tahu persis kapan Sato san masuk Islam. Kabar yang pernah saya dengar menyebutkan ia masuk Islam tahun 80-an. Ketika saya pertama kali mengenalnya di tahun 1997 kejadian itu sudah lama berlalu. Kota tempat saya bermukim itu sebuah kota yang tak terlalu besar di bagian utara Jepang. Orang Islam di situ umumnya pemukim sementara, yaitu para mahasiswa dan peneliti asing. Bila tugas mereka selesai, mereka kembali ke negaranya. Karenanya saat saya mengenal Sato san, tak ada lagi orang yang dulu menyaksikan saat dia masuk Islam.

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan Sato san saya tak pernah bertanya soal kapan dan bagaimana dia masuk Islam. Rasanya tak ada teman saya yang melakukan itu. Sato san bukan lagi mualaf. Menanyakan hal itu seakan memberi kesan bahwa seorang Jepang muslim adalah sebuah keanehan.

Saya juga tak mengenal keluarganya. Saya tak tahu apakah istri dan anak-anaknya beragama Islam atau tidak. Tapi dugaan saya keluarganya tidak beragama Islam, karena Sato san tidak pernah membawa mereka ke berbagai acara kami. Kami, lagi-lagi, tak pernah mencoba untuk mencari tahu soal itu.

Kota tempat saya tinggal itu belum punya mesjid saat saya datang. Tapi sudah ada rencana untuk mendirikan mesjid, dan sudah ada sejumlah uang terkumpul. Hanya saja belum cukup, karena biaya untuk membeli tanah dan mendirikan bangunan sangat mahal di Jepang. Kami terus mengumpulkan dana.

Hampir sepuluh tahun kemudian barulah mesjid itu bisa berdiri. Sejak tahun 2007 kota itu punya mesjid.

Peran Sato san sangat besar dalam hal ini. Dia berperan menjaga uang yang selama ini dikumpulkan. Dia juga yang mengurus pembelian tanah dan bernegosiasi dengan perusahaan konstruksi saat pembangunan mesjid.

Sato san, arigato…………..

Pos ini dipublikasikan di Persona, Sosial dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Muhammad Noboru Sato

  1. sarkembe berkata:

    subhanalloh,……
    semoga saja banyak orang seperti dia,….

    ………………………………………………………………
    http://sarkembe.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s