Orang Jepang Rajin Mencatat

Masa-masa awal studi saya di Jepang dulu kebanyakan saya habiskan dengan mempelajari cara mengoperasikan alat-alat eksperimen. Bidang ilmu saya Fisika, khususnya saya belajar Fisika Bahan. Banyak eksperimen yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan studi S2 dan S3. Waktu belajar di jenjang S1 di Indonesia saya nyaris tidak bersentuhan dengan peralatan eksperimen, kecuali waktu praktikum. Karenanya banyak alat eksperimen yang belum saya kenal.

Saat saya belajar menggunakan alat, saya dibimbing oleh mahasiswa senior. Bersama saya ada beberapa mahasiswa seangkatan, yang baru saja bergabung pada grup riset tempat saya belajar. Saat diajari saya menyimak dan mempraktikan cara-cara mengoperasikan alat. Sebagian besar saya ingat dan hafal di luar kepala, sedangkan hal-hal detil yang tidak mungkin saya ingat seperti angka-angka parameter, saya catat. Saya perhatikan para mahasiswa Jepang tadi sangat berbeda dengan saya. Mereka mencatat semua instruksi yang diberikan, langkah demi langkah. Beberapa bahkan membuat gambar.

Di masa-masa berikutnya saya perhatikan, mencatat adalah kebiasaan orang Jepang. Dalam setiap pertemuan mereka selalu siap dengan buku catatan dan pulpen. Demikian pula saat mengerjakan sesuatu. Seorang associate professor yang merupakan teman dekat saya malah membuat semacam log book ketika melakukan eksperimen. Di log book itu dia mencatat setiap kejadian maupun hasil eksperimen, seperti grafik data yang tampil di layar monitor.

Ada pengalaman yang lebih menarik soal catat mencatat ini. Saat saya bekerja sebagai Visiting Associate Professor di Tohoku University yang juga almamater saya, salah satu eksperimen saya adalah memberikan doping yodium pada molekul DNA yang saya teliti. Ketika itu saya belum tahu cara melakukannya dan sedang mencari-cari literatur yang menjelaskan soal itu. Saat itu profesor pembimbing saya teringat bahwa waktu dia studi di tingkat master dia pernah melakukan doping yodium atas sampel tertentu. Lalu dia pergi ke ruangannya dan kembali dengan sebuah buku catatan tua. Itu adalah buku catatan yang dia buat saat kuliah di tingkat master dulu. Artinya catatan itu sudah dia simpan hampir 30 tahun, berisi berbagai kegiatan eksperimen dia, termasuk tentang metode doping yodium tadi. Luar biasa.

Kini saat saya bekerja di perusahaan, saya menyaksikan hal yang sama. Setiap orang Jepang selalu membekali diri dengan buku catatan. Setiap ada tamu, meski tidak ada agenda membahas persoalan tertentu mereka selalu datang ke ruang pertemuan dengan membawa catatan.

Kebiasaan mencatat memberikan banyak keuntungan. Tapi di satu sisi banyak kelemahan juga pada kebiasaan ini. Khusus pada mahasiswa Jepang yang dulu belajar bersama saya, saya lihat mereka cenderung menjadi tukang catat. Mereka tidak sepenuhnya paham apa yang mereka catat. Mungkin karena terlalu sibuk mencatat saat mendengarkan penjelasan, sehingga tidak bisa berfikir banyak dalam mencerna penjelasan itu. Saat mereka harus mengoperasikan alat secara mandiri, mereka sering kebingungan saat menemui masalah yang solusinya tidak tersedia pada catatan mereka.

Saya sendiri memilih untuk memahami isi penjelasan, cukup mecatat hal-hal yang tak mungkin diingat. Dengan pemahaman saya bisa mencari solusi sendiri ketika menghadapi masalah. Tidak tergantung pada catatan.

Pos ini dipublikasikan di Bahasa, Kerja, Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s