Yoroshiku onegaishimasu

Saat anak saya hendak dibawa masuk ke ruang operasi Selasa malam lalu, saya berkata pada tim dokter yang hendak melakukan operasi, “Minta tolong, Dok.” Anak saya, usia 8 tahun, hendak dioperasi usus buntu. Sebagai ayah, tentu saya khawatir. Maka keluarlah ucapan tadi. Saya menitipkan keselamatan anak saya pada tim dokter yang menanganinya.

Reaksi yang saya terima agak di luar dugaan. Para dokter itu tertawa. Mungkin ucapan saya terdengar aneh di telinga mereka. Saya sadar akan hal itu. Ucapan saya tadi memang bukan kebiasaan orang Indonesia, tapi kebiasaan orang Jepang. Dalam budaya Jepang, saat menghadapi situasi seperti itu, saat hendak minta tolong, orang akan berkata yoroshiku onegaishimasu. Teman saya, orang Jepang di kantor, bertanya pada saya, bagaimana ungkapan itu diucapkan dalam bahasa Indonesia. Saya ajarkan dia untuk berkata “minta tolong”. Di kantor dia selalu berkata begitu saat menyuruh staf. Tapi ketika itu saya tiru, saya ditertawakan oleh para dokter.

Onegaishimasu berasal dari kata negau, artinya memohon. Bentuk formal kata kerja ini adalah negaimasu. Onegaishimasu adalah bentuk halusnya. Kata benda dari kata ini adalah negai, artinya permohonan. Harapan atau doa biasa disebut sebagai negai-goto.

Ungkapan onegaishimasu diucapkan hampir dalam berbagai kesempatan. Saat berkenalan, yang diucapkan orang Jepang setelah menyebut nama adalah yoroshiku onegaishimasu. Lengkapnya, douzo yoroshiku onegaishimasu. Pada saat tahun baru, orang mengucapkan kotoshi mo (tahun ini juga) yoroshiku onegaishimasu. Dan setiap kali minta bantuan, hendak bekerja bersama, orang mengucapkannya.

Seperti tertulis di atas, onegaishimasu selalu didahului dengan yoroshiku. Kata ini berasal dari kata sifat, yoroshii, artinya bagus, benar. Yoroshiku adalah bentuk adverb dari kata sifat tadi. Pengertian bebas, saat mengucap kata yoroshiku onegaishimasu kita sedang mengungkapkan bahwa kita sedang “memohon dengan penuh hormat, penuh harap”.

Ketika berkenalan, orang Jepang berharap itu adalah awal dari sebuah hubungan (tsukiai). Dalam hubungan itu tentu kita akan banyak membutuhkan bantuan, saling menolong. Dalam pengertian itulah ungkapan yoroshiku onegaishimasu diucapkan. Pada ucapan tahun baru, selengkapnya diungkapkan, “tahun lalu saya sudah mendapat banyak bantuan, tahun ini pun saya mohon dengan hormat”.

Begitulah. Saat meminta tolong, bahkan memerintahkan bawahan, kata itu diucapkan. Sayangnya, kita tidak punya kebiasaan itu. Saya terbiasa mengucapkannya dalam bahasa Jepang, merasa janggal kalau itu tak saya ucapkan. Ketika saya coba ucapkan dalam bahasa Indonesia, saya ditertawakan. Lain padang, lain belalang.

https://budayajepang.wordpress.com/

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yoroshiku onegaishimasu

  1. yup.. sama seperti gomenasai..
    kayaknya orang jepang sangat sensitive menggunakan kalimat yoroshiku onegaishimasu
    dan gomenasai..
    makna yang sangat mendalam dan sangat santun ^__^

    saya sangat menyukai budaya jepang dan sangat terpengaruh, jujur saya hehe..
    saya secara ga sadar sering sekali mengucapkan kata “maaf” karena terlalu sering mendengar hal tersebut dipergunakan oleh orang jepang..

    artikel anda sangat bagus..
    saya jadi ingin merasakan pengalaman hidup di jepang suatu saat nanti..

    yoroshiku onegaishimasu ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s