Sindroma Sazae san

“Ooki na sora wo nagametara, shiroi kumo ga tonde ita. Kyou wa tanoshiiiiiii………..”

 

 

Teks dalam bahasa Jepang yang saya kutipkan di atas tak perlu saya terjemahkan. Karena kalaupun saya terjemahkan tak akan banyak manfaatnya bagi pembaca. Lebih penting untuk menjelaskan dari mana teks itu berasal.

 

Teks tersebut adalah potongan lagu ending theme pada serial animasi Sazae san. Sazae san adalah tokoh kartun ciptaan Machiko Hasegawa, pertama kali dipublikasikan di Fukunichi Shinbun tahun 1946. Kemudian serial kartun ini dibeli oleh koran terkemuka, Asahi Shinbun pada tahun 1949. Dan Hasegawa terus menerbitkan kartun-kartunnya di Asahi Shinbun hingga akhir hayatnya di tahun 1972. Belakangan、mulai tahun 1969 tokoh ini muncul sebagai tokoh animasi di Fuji TV, dan hingga kini masih disiarkan.

 

Tokoh utama dalam cerita ini, Sazae, adalah putri tertua dari Namihe Isono. Ia sudah menikah dengan Matsuo Fuguta, dan mempunya seorang anak berusia 4 tahun, bernama Tara. Uniknya, dia masih punya dua orang adik, laki-laki (Katsuo) dan perempuan (Wakame) yang masih berusia sekolah dasar.

 

Serial ini bercerita tentang keluarga Jepang versi lama. Versi ketika Jepang sedang masuk ke era pertumbuhan ekonomi. Nilai-nilai modern mulai masuk, tapi di berbagai keluarga tradisi tua masih bertahan. Saya menyukai serial animasi Sazae san karena alasan ini. Sazae san, seorang ibu muda, tinggal bersama satu atap dengan orang tuanya. Berdua dengan ibunya (Fune) mereka tidak bekerja, hanya mengurus rumah saat suami dan ayahnya bekerja. Keduanya, suami dan ayahnya, adalah karyawan perusahaan, salary man yang dalam bahasa Jepang disebut sarari man. Inilah yang paling tipikal masa lalu. Di masa kini sudah lebih banyak perempuan Jepang yang bekerja.

 

Sazae san adalah karakter yang unik. Ia termasuk perempuan yang banyak bicara, sedikit galak terhadap suami, merasa dirinya cantik. Ini mungkin mewakili sosoknya sebagai seorang perempuan yang sudah menikah. Tapi ia juga masih menyimpan sifat kekanakan. Karenanya dia masih sering bertengkar dengan kedua adiknya yang masih duduk di sekolah dasar.

 

Lalu, apa pula itu sindroma Sazae san? Ini tidak ada hubungannya dengan karakter maupun isi cerita serial animasi Sazae san. Hubungannya lebih ke jam tayang acara ini di TV. Serial ini disiarkan jam 6.30, Minggu malam. Artinya ini sudah di penghujung akhir pekan. Saat acara ini selesai, dan penggalan lagu ending theme tadi berkumandang, itu jadi petanda bahwa kita harus bersiap untuk istirahat dan kembali bekerja keesokan harinya. Khususnya pada suasana usai libur panjang, lagu Sazae san itu bak siraman air dingin ke muka kita saat kita sedang mimpi indah.

 

Dalam bahasa yang lebih sering kita dengar, sindroma Sazae san adalah sindroma “I don’t like Monday”. Ia mewakili keengganan banyak orang untuk kembali ke meja kerja. Bisa jadi karena beban pekerjaan yang terasa terlalu berat. Bisa jadi pula bersifat sementara, karena kebetulan suasana tempat kerja sedang kurang bagus. Semua orang tentu pernah mengalami sindroma ini.

 

Khusus di Jepang, beban kerja memang tidak enteng, dan tidak pernah enteng. Bekerja dari pagi sampai larut malam adalah hal biasa. Di tempat kerja suasananya pun tak selalu menyenangkan. Dampratan atasan adalah hal yang hari-hari harus dihadapi. Dan itu harus diterima pula sebagai kelaziman. Artinya, kita tak boleh melawan.

 

Untuk menghadapi beban itu, biasanya orang Jepang memanfaatkan minuman keras (sake). Usai kerja biasanya mereka mampir sejenak ke kedai minum, sendirian atau bersama teman. Di situlah stress dilepaskan. Sambil minum mereka bicara. Mengeluhkan beban kerja, atau memaki-maki atasan. Pulang dalam keadaan setengah mabuk, membersihkan badan, lalu tidur. Esok mulai bekerja kembali. Begitulah siklusnya.

 

Kita pun mungkin banyak yang menghadapi situasi semacam itu, baik sifatnya permanen atau sementara. Bagaimana Anda mengatasinya? Mudah-mudahan tidak dengan bantuan sake!

 

https://budayajepang.wordpress.com/

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kerja, Sosial. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sindroma Sazae san

  1. tiwik berkata:

    oh, di kantor2 jepang juga kayak indonesia to? atasan sering marah2 ke bawahan?

    bukannya, kalo di sistem pendidikan jepang (kuliah2an), itu sensei jepang baik2 banget ya.
    lalu, banyak juga buku yang mengulas tentang gaya hidup orang jepang yang menghagai orang sekitarnya dan gak marah2 kayak yang diceritain di atas.
    hm, gimana tuh ya?

  2. alphie marioti berkata:

    wah aku suka banget lho ama sazae san, pasti hanya beberapa orang yang tau. Aku mo nyari komiknya kok susah amat yah?bisa minta tolong g kalo ada di share gitu?hehehe..makasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s