Arigato, Nippon! Ganbare, Nippon!

Seminggu sebelum gempa dan tsunami menghantam Jepang, saya kedatangan tamu. Tamu saya seorang peneliti dari Tohoku University, universitas tempat saya kuliah S2-S3. Dia hendak melakukan penelitian sosiologi di Karawang, yang kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat tinggal dan kantor saya. Tim peneliti terdiri dari 30 orang, terdiri dari satu orang professor, asisten profesor, peneliti, dan selebihnya mahasiswa.

 

Peneliti dari Tohoku University tadi saya kenal sejak akhir tahun lalu. Ketika itu ada pameran pendidikan Jepang, dan universitas tersebut membuka gerai pameran. Sebagai seorang alumnus saya ikut serta menjaga gerai tersebut. Peneliti itu sangat berterima kasih atas bantuan saya saat itu. Tapi saya katakan bahwa hal itu sudah menjadi kewajiban saya.

 

Saat dia datang kedua kalinya, tak banyak bantuan yang dia butuhkan. Namun kemudian ada dua orang anggota tim peneliti yang sakit, dan harus dibawa ke Jakarta. Dari pemeriksaan dokter memutuskan kedua orang itu harus menjalani rawat inap. Mereka sepertinya terserang demam berdarah. Untuk keperluan mengurusi orang sakit itu dia memerlukan mobil. Lalu saya sediakan mobil untuk keperluan itu, selama beberapa hari.

 

Ketika semua urusan ini selesai, dan tim peneliti kembali ke Jepang, tamu saya tadi mengirim email, mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas bantuan saya. Saya merasa senang karena bisa membantu, walau nilai bantuan saya itu tak seberapa.

 

Saat terjadi gempa saya langsung menelepon Sensei, profesor pembimbing waktu saya kuliah dulu. Tapi teleponnya tak bisa saya hubungi. Demikian pula beberapa teman (orang Jepang) yang lain. Petangnya baru saya tahu sebabnya: listrik mati di semua wilayah yang terkena gempa. Beberapa hari kemudian barulah saya bisa menghubungi mereka. Syukur, mereka semua dalam keadaan sehat, tidak cedera, dan tidak menderita kerugian yang berarti.

 

Saat saya telepon umumnya mereka kaget. Kaget karena sepertinya jarang mendapat telepon dari luar negeri. Tapi juga kaget karena merasa mendapat perhatian yang begitu besar dari saya.

 

Dua kejadian di atas adalah wujud dari ikatan batin yang kuat, yang saya rasakan kepada Jepang dan orang-orang Jepang. Tulisan ini hendak bercerita tentang bagaimana ikatan itu terbentuk.

 

Tahun 1997 bulan April saya berangkat ke Jepang sebagai calon mahasiswa S2. Kota tujuan saya adalah Sendai, di mana kampus Tohoku University berada. Pagi hari kami rombongan mahasiswa yang mendapat beasiswa Monbusho (kini Monbokagakusho) berjumlah sekitar 50 orang mendarat di bandara Narita. Di situ kami disambut oleh petugas dari Association of International Education Japan (AIEJ, kini JASSO) yang mengatur perjalanan kami ke kota tujuan masing-masing.

 

Petang hari baru saya tiba di kotan tujuan, Sendai, setelah menempuh perjalanan 2 jam dengan shinkansen dari Tokyo. Sebelumnya saya menempuh perjalanan Narita-Tokyo yang juga menghabiskan waktu 2 jam. Di stasiun Sendai saya dijemput oleh mahasiswa yang diutus oleh Sensei. Hari itu saya bertemu Sensei sebentar, kemudian diantar oleh mahasiswa tadi menuju asrama mahasiswa asing.

 

Universitas menyediakan sarana asrama bagi mahasiswa asing, khususnya untuk mahasiswa yang baru datang. Hanya setahun kita boleh tinggal di situ. Tapi itu sangat membantu. Saat pertama kali datang, kita tak tahu di mana harus mencari apartemen untuk memulai hidup baru. Dengan adanya asrama ini kesulitan itu bisa diatasi. Asrama sudah dilengkapi dengan perabot, termasuk dapur kecil dan kompor. Tapi peralatan masak seperti panci serta piring, kita harus beli sendiri.

 

Hari-hari pertama di Sendai adalah hari-hari untuk melengkapi berbagai kebutuhan. Jepang adalah negara yang serba mahal. Kalau semua hendak dibeli baru, beasiswa kita tak akan cukup. Maka berbagai cara ditempuh. Salah satunya dengan memanfaatkan layanan berbagai organisasi volunteer. Mereka mengumpulkan barang-barang bekas dari orang-orang Jepang, lalu menjualnya dengan harga murah melalui bazaar.

 

Kelak ketika sudah makin banyak kenal dengan orang Jepang, saya banyak menerima pemberian  barang-barang yang saya perlukan. Saat istri saya hamil, misalnya, saya memasang pengumuman bahwa saya membutuhkan barang-barang keperluan bayi. Hasilnya, beberapa orang datang mengantarkan berbagai jenis barang ke apartemen saya. Semuanya diberikan gratis. Beberapa barang itu masih saya simpan hingga saat ini.

 

Tentu yang saya terima bukan hanya barang-barang belaka. Beberapa bulan sejak kedatangan saya ke Jepang, istri saya menyusul. Saya sudah mahir berbahasa Jepang sebelum keberangkatan. Istri saya sama sekali tidak bisa. Hidup di suatu tempat di mana bahasa di sekelilingnya tidak dia pahami adalah masalah besar buat istri saya. Lagi-lagi kami tertolong oleh volunteer. Ada volunteer, ibu rumah tangga yang dengan suka rela datang ke apartemen kami, mengajari istri saya bahasa Jepang. Tak cuma itu. Dia juga sesekali membawa istri saya pergi ke luar, belanja atau makan bersama.

 

Makin lama kami bermukim, makin banyak teman. Makin banyak dan beragam pula bantuan yang kami peroleh. Ketika kami baru punya bayi, saat itu puncak kesibukan saya sebagai mahasiswa. Saya sering pergi ke luar kota. Berat rasanya meninggalkan istri dengan bayi yang baru lahir, sendiri, dengan keterbatasan bahasa. Untunglah ada kenalan kami, seorang ibu yang mau menginap beberapa hari di apartemen saya, menemani istri saya selama saya pergi. Dan itu dilakukannya beberapa kali.

 

Mengasuh bayi yang baru lahir bagi kami ketika itu adalah hal yang juga tidak mudah. Banyak hal yang tidak kami ketahui. Dalam hal itupun kami banyak mendapat bantuan. Termasuk dari dokter dan perawat di rumah sakit tempat anak kami lahir. Beberapa kali saya menelepon ke rumah sakit, bertanya tentang urusan perawatan bayi. Tentang hal-hal yang sepele bagi orang yang sudah berpengalaman. Mereka selalu menjawab dengan baik, bahkan saat saya menelepon tengah malam sekalipun.

 

Begitulah. Saya merasa sangat berterima kasih, bukan sekedar karena saya mendapat beasiswa untuk belajar di Jepang hingga ke jenjang doktoral. Bukan pula karena saya mendapat banyak bantuan materi. Tapi karena antara saya dengan Jepang, dengan orang-orang Jepang, telah terbentuk hubungan kemanusiaan yang sangat kuat. Orang-orang yang tidak punya hubungan darah dengan kami. Yang berbeda bangsa. Tapi telah dengan tulus mengulurkan berbagai bantuan, seakan kami ini anak-anak mereka sendiri.

 

Maka saya tak segan memanggil okaasan (ibu)/otousan (bapak)  kepada beberapa orang yang saya kenal. Rasanya mereka memang sudah seperti ibu bapak kandung sendiri. Anak-anak saya juga saya ajari untuk memanggil mereka obaasan (nenek) dan ojiisan (kakek). Pada suatu kesempatan perayaan Hari Ibu, kami mengirim bunga kepada ibu-ibu itu. Mereka menerimanya dengan tangisan haru.

 

Bantuan kecil yang saya ceritakan di awal tulisan ini rasanya tak sebanding dengan apa yang pernah saya terima selama 10 tahun bermukim di Jepang. Saat Jepang dilanda bencana seperti ini, ingin rasanya memberi lebih banyak dan lebih banyak lagi bantuan.

 

Terima kasih, Jepang.

Arigato Nippon. Gambare Nippon!

 

http://berbual.com/

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s