Tatsujin dan Shokunin

TPI yang sudah berganti nama menjadi MNC TV sekarang menyiarkan acara bernama TV Champion. Ini adalah acara yang diadopsi dari sebuah stasion TV Jepang, yaitu TV Tokyo. Di acara ini orang dengan berbagai profesi bertanding menunjukkan keahliannya, terkadang dengan cara yang tidak lazim. Para pengemudi traktor, misalnya, disuruh memotong sayuran dan mempersiapkan masakan tidak dengan tangan, tapi dengan traktor yang dia operasikan. Sekilas ini seperti sedang main-main. Tapi ada hal penting di situ, yaitu orang-orang itu menunjukkan keahlian mereka sampai pada tingkat ekstrim. Orang-orang yang menekuni sesuatu hingga keahlian mereka mencapai tingkat istimewa atau ekstrim dalam bahasa Jepang disebut tatsujin.

Kata tatsujin terdiri dari dua huruf kanji, yaitu tatsu (達) yang artinya jadi, lebih, atau maju, dan jin (人) yang artinya orang. Seperti disinggung di atas, tatsujin adalah orang yang menguasai suatu teknik secara ekstrim. Ini bisa berlaku untuk apa saja, baik yang merupakan keahlian dalam pekerjaan maupun untuk hal-hal yang bukan pekerjaan, seperti permainan. Misalnya orang yang pandai bermain yoyo, maka dia disebut yoyo no tatsujin. Khusus untuk orang yang ahli dalam mengerjakan suatu pekerjaan disebut shokunin.

Kata shokunin terdiri dari dua huruf kanji, yaitu shoku (職) yang artinya pekerjaan, dan nin (人) yang artinya orang. Secara lateral artinya seseorang yang melakukan pekerjaan. Istilah ini biasanya dilekatkan pada seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan tangan, yang dalam istilah kita disebut perajin. Karena mereka melakukan hal yang sama secara berulang dan terus menerus, ketrampilan tangannya mencapai tingkat yang ekstrim. Teknik ekstrim yang dimiliki oleh seorang shokunin biasanya disebut shokunin no waza. (Waza (技) artinya teknik.) Itulah yang biasanya dipamerkan pada acara TV Champion yang saya singgung tadi.

Sebagaimana terjadi juga di negara lain, era shokunin adalah era sebelum revolusi industri. Orang mengerjakan sesuatu dengan tangan, dibantu dengan peralatan kerja sederhana. Dalam situasi itu ketrampilan tangan menjadi kunci kualitas dan kuantitas produk.

Keahlian shokunin ditransfer kepada orang lain dengan prinsip totei-seido (徒弟制度) di mana seseorang hendak belajar suatu teknik (orang tersebut disebut desi (弟子) atau murid), berguru kepada shokunin melalui praktik kerja. Ia akan bekerja sambil belajar, menempuh suatu masa tertentu, sampai mencapai tingkat keahlian tertentu, dan siap menjadi shokunin baru.

Profesi atau derajat shokunin adalah sebuah kebanggaan. Kebanggaan terletak bukan pada tercapainya suatu tingkat keahlian, melainkan pada kualitas barang yang dihasilkan. Seorang shokunin puas bila ia bisa menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Bahkan ia akan mengejar suatu kualitas yang hanya dia yang bisa menghasilkannya.

Di era modern tentu saja sistem produksi berubah. Kini barang-barang dibuat dengan prinsip mengejar kuantitas produksi. Untuk itu digunakan mesin-mesin produksi. Dalam hal ini kualitas dan kuantitas produk barang tidak lagi ditentukan oleh manusia, tapi oleh mesin. Manusia lebih banyak berperan dalam mengoperasikan mesin belaka.

Pada industri modern Jepang semangat shokunin ini diabadikan pada semangat untuk membuat produk-produk berkualitas. Alat dan teknik pengerjaan produk boleh berubah, tapi semangat untuk menciptakan produk berkualitas tetap dipelihara sebagai budaya perusahaan.

https://budayajepang.wordpress.com

 

 

Pos ini dipublikasikan di Kerja. Tandai permalink.

3 Balasan ke Tatsujin dan Shokunin

  1. Oryza berkata:

    sepertinya Japan memang gudangnya para ahli… Pantes aja klo liat TV Champion ampe terbengong-bengong…
    btw, mari mampir di blog saya di: saudaratua.wordpress.com

  2. BlueZaold berkata:

    di paragraf kedua huruf (人) dalam tatsujin dibaca jin. sedangkan di paragraf ketiga huruf (人) dalam shokunin dibaca nin. apa memang di Jepang satu huruf dengan arti yg sama bisa dibaca dalam dua kata (atau lebih) yg berbeda?

    saya pernah baca kalau huruf (風) bisa dibaca kaze (angin) atau fuji (udara). tapi di huruf (風), tiap pengucapan punya arti yg berbeda. sedangkan (人) dalam tulisan anda punya dua pengucapan berbeda tapi artinya masih tetap sama.

    maaf kalau tidak ada hubungannya dengan topik yg dibahas.

    • budayajepang berkata:

      kanji setidaknya punya dua cara membaca, yaitu on-yomi (cara baca dari cina) dan kun-yomi, cara membaca yg diciptakan orang Jepang.
      masing-masing cara membaca itu juga menyediakan cara membaca yang berbeda pula, tergantung penggunaan kanji pada kata. kanji 人 dibaca hito (kun-yomi), jin, dan nin (on-yomi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s