Nakano San

Saya hendak bercerita tentang sosok yang berperan cukup penting pada studi saya di Jepang. Namanya Kyouko Nakano. Kami biasa memanggil dia Nakano san. Orang-orang yang kuliah di Jepang denga beasiswa STAID mungkin banyak yang kenal dengan dia. STAID adalah program pengiriman pelajar untuk belajar di negara-negara maju yang merupakan program yang dicanangkan oleh Menristek Habibie pada era 80-90-an. Dia adalah seorang konsultan pada Japan Indonesia Forum for Science and Technology (JIF). Lembaga ini memberikan semacam pendampingan bagi mahasiswa yang dikirim oleh negara untuk belajar ke Jepang. Mulai dari pelatihan bahasa Jepang, juga mencarikan universitas yang cocok, serta profesor pembimbing. Lembaga ini juga melakukan kegiatan yang serupa di Malaysia.

Belakangan mereka juga menyelenggarakan Asian Youth Fellowship (AYF) Program. Ini adalah program beasiswa untuk pelajar dari 10 negara ASEAN plus Bangladesh, untuk studi di Jepang pada Jenjang master dan doctor. Setiap negara diberi jatah 2 pelajar per tahun. Saya adalah peserta angkatan pertama program ini pada tahun 1996. Kami menjalani pelatihan bahasa Jepang selama setahun di Malaysia, dan setelah itu melanjutkan studi dengan beasiswa Monbusho (sekarang Monbukagakusho) di Jepang.

Nakano san ketika itu membantu saya memilih universitas tempat belajar, juga menghubungkan saya dengan calon profesor pembimbing. Saya ingat betul, saat saya menempuh ujian masuk, saya datang langsung dari Kuala Lumpur ke Sendai, tempat tujuan belajar saya, yaitu Tohoku University. Dia yang mengatur semua urusan perjalanan saya dari Tokyo ke Sendai, juga mengatur penginapan saya selama di sana.

Usai program AYF sebenarnya kami adalah mahasiswa Monbusho biasa. Tidak perlu ada ikatan khusus dengan JIF. Tapi karena merasa bertanggung jawab, JIF tetap melakukan pemantauan, dan memberikan bantuan kalau diperlukan. Bantuan itu macam-macam bentuknya. Saya, ini agak memalukan sebenarnya, sempat beberapa kali pinjam uang ke JIF untuk berbagai keperluan. Pernah untuk pindah apartemen, yang memerlukan biaya tak sedikit. Pernah pula saya pinjam uang untuk keperluan mudik. Semua itu saya cicil pembayarannya dari tabungan sisa beasiswa. Saat JIF tak lagi bisa memberikan pinjaman, pernah Nakano san meminjami saya uang dari kantong pribadinya.

Ada kisah yang sangat mengharukan, tentang seorang teman saya, orang Filipina. Dia satu angkatan dengan saya, dan kebetulan belajar di universitas yang sama. Di masa studinya, menjelang selesai master, ia mengalami masalah kesehatan. Ia merasa sakit di tulang punggung, sehingga studinya mengalami gangguan. Ia menyerah, memutuskan untuk berhenti kuliah. Ia membagikan semua barang miliknya, lalu berangkat ke Tokyo dengan maksud pulang ke Filipina.

Di Tokyo Nakano san menahannya. Ia mencarikan dokter dan rumah sakit, lalu teman saya itu mendapat perawatan. Dan akhirnya dia sembuh. Sebagian biaya berobat waktu itu diusahakan oleh Nakano san, sehingga JIF bisa memberikan bantuan. Teman saya itu sukses menyelesaikan master, bahkan melanjutkan studinya hingga doktor.

Setelah saya lulus, bahkan setelah pulang ke Indonesia, saya sempat beberapa kali ketemu Nakano san. Saat itu ia sudah tidak lagi bekerja untuk JIF (waktu itu sudah berganti nama menjadi Asia SEED). Ia bekerja sebagai konsultan JICA di ITS, melalui proyek PREDICT. Waktu saya masih bekerja sebagai Visiting Associate Professor di Tohoku University tahun 2006, Nakano san kebetulan berkunjung ke Tohoku untuk urusan pekerjaan beliau. Saat itu dia menyempatkan diri untuk makan siang dan berbincang santai. Dia sangat senang dengan pencapaian saya ketika itu.

Setahun kemudian saya bertemu dengan Nakano san di Jakarta. Pernah dia secara khusus terbang dari Surabaya ke Jakarta, sekedar untuk bertemu dan berbincang dengan saya. Dia juga pernah berkunjung ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Dalam setiap pertemuan kami banyak berdiskusi, terutama tentang pendidikan tinggi di Indonesia. Nakano san, karena pekerjaannya, berinteraksi cukup intens dengan kalangan pendidikan di Indonesia. Dan dia memiliki beberapa mimpi yang ingin dia wujudkan. Sesekali kami mengenang masa lalu. Kadang rasanya tak percaya. Dulu saya hanyalah calon mahasiswa yang hendak kuliah di Jepang. Ketika kemudian kami bertemu, kami sudah dalam posisi yang sama sekali berbeda.

Tak sedikit orang lain yang mengenang Nakano san seperti saya mengenang dia. Dia begitu tulus dalam memberikan bantuan. Melampaui tuntutan profesi yang dia sandang. Dalam kasus teman saya orang Filipina tadi, Nakano san bahkan mampu menyelamatkan masa depannya.

Kita, dalam bekerja, mungkin banyak berinteraksi dengan orang lain. Sesekali mungkin kita membantu orang melebihi apa yang harus kita lakukan. Mungkin kita tidak sadar, kita telah melakukan sesuatu yang besar bagi orang tersebut. Jadi, teruslah melakukan hal itu.

http://berbual.com

Bersama Nakano san di Simposium dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia Jepang

https://budayajepang.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di Persona. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s